Petani Ribut Soal Pupuk, PI Klaim Bukan Langka Cuma Nyangkut di Mekanisme
KARAWANG - Petani Purwasari yang lagi panas dingin nyari pupuk akhirnya dapet klarifikasi. PT Pupuk Indonesia (PI) turun tangan dan meluruskan isu, bukan pupuknya yang ngilang, tapi jalurnya yang ganti arah.
Staf AAE Pupuk Indonesia, Reviana Santika Dora, buka suara saat ditemui wartawan di Kantor UPTD Purwasari, Sabtu (24/1/2026). Katanya, drama pupuk telat ini muncul gara-gara mekanisme distribusi yang sekarang beda total dari sebelumnya.
"Ini bukan kelangkaan ya. Mekanismenya aja yang berubah. Dulu Pupuk Kujang kirim ke tiga distributor di Karawang, sekarang kios harus jemput bola langsung ke pabrik," beber Reviana, lurus tapi nyeletuk.
Nah, perubahan sistem ini bikin pupuk agak telat mendarat di kios, apalagi pas musim tanam lagi rame-ramenya. Tapi PI ngegas memastikan, urusan pupuk subsidi masih aman, rapi, dan dikunci sistem.
Buat petani yang mau nebus pupuk urea, nggak ribet. Cukup modal KTP, data langsung discan dan dicek lewat sistem digital.
"Tinggal tunjukin KTP. Di-scan barcode atau ditulis namanya. Kalau terdaftar, langsung kebuka sebagai penerima," jelasnya santai.
Reviana juga menegaskan, jalur pupuk buat distributor atau PUD udah terkunci wilayahnya. Jadi nggak ada ceritanya pupuk Purwasari nyelonong ke kecamatan lain.
"Jumlah dan wilayahnya sudah dikunci. Nggak bisa dialihkan ke mana-mana," tegasnya.
Meski begitu, suara sumbang tetap terdengar dari sawah. Petani ngeluh pupuk di kios lambat nongol, sementara tanaman nggak bisa nunggu birokrasi kelar loading.
Sementara itu, Kepala UPTD Purwasari Dani Mulyana, S.P., M.P. memastikan stok pupuk di wilayahnya aman terkendali. Total sawah Purwasari mencapai 1.169 hektare, dengan kebutuhan urea sekitar 275 kg/ha dan NPK 250 kg/ha.
"Ada tujuh kios yang melayani delapan desa. Untuk urea, stok kami pastikan aman," kata Dani.
Soal isu pupuk dijual ke luar wilayah, Dani langsung pasang badan. Menurutnya, kalau sampai ada kios nakal, sanksinya nggak main-main.
"Kalau ada yang jual ke luar haknya, itu ranah Pupuk Indonesia. Bisa sampai pencabutan izin kerja sama," tegasnya.
Meski stok aman, Dani ngingetin satu hal krusial bahwa peran kios itu vital. Mereka harus jeli baca kebutuhan petani, bukan nunggu sawah ribut dulu baru gerak.
"Kios harus bisa hitung kebutuhan petani setahun. Jangan nunggu petani panik baru sibuk nebus pupuk," tandasnya.
Sistem boleh diklaim aman, data boleh dikunci, dan mekanisme boleh makin rapi. Tapi di sawah, tanaman nggak ngerti istilah 'perubahan skema'. Saat pupuk telat turun, yang layu bukan cuma daun padi, tapi kepercayaan petani juga ikut mengering.
Dan jika situasi ini terus berulang, pertanyaan akhirnya mengerucut pada satu hal sederhana; siapa yang bertanggungjawab saat musim tanam tak bisa menunggu. (***)

Posting Komentar