Budaya
Headline
Mayor Tan Tjien Kie Filantropis dan Entrepreneur Sosial dari Cirebon
![]() |
Jeremy Huang Wijaya Budayawan Tionghoa |
Mayor Tan Tjien Kie
Filantropis dan Entrepreneur Sosial dari Cirebon
Oleh Jeremy Huang Wijaya
Wilayah Cirebon pada masa lalu dikenal sebagai salah satu sentra penghasil gula terbaik di Nusantara. Hamparan kebun tebu membentang luas, ditopang oleh berdirinya pabrik-pabrik gula sejak era kolonial Belanda. Hingga kini, sejumlah bangunan pabrik tersebut masih berdiri sebagai saksi kejayaan industri gula masa silam.
Di antara para pengusaha gula paling berpengaruh pada masanya, nama Mayor Tan Tjien Kie menempati posisi istimewa. Ia dikenal sebagai pemilik ribuan hektare lahan, pengendali pabrik gula besar, sekaligus tokoh Tionghoa paling berpengaruh di Cirebon. Mayor Tan Tjien Kie lahir pada 25 Januari 1853 dan wafat di Cirebon pada Februari 1919.
Mayor Tan Tjien Kie mewarisi usaha gula dari garis keluarga yang kuat. Kakeknya, Tan Kim Lin, mendirikan pabrik gula di Luwunggajah pada tahun 1827. Usaha tersebut kemudian diteruskan oleh ayahnya, Tan Tian Keng, yang juga menjabat sebagai Kapten dalam struktur kepemimpinan komunitas Tionghoa. Secara genealogis, Mayor Tan Tjien Kie merupakan keturunan Oey Lwan, seorang imigran asal Tiongkok.
Tan Kim Lin sendiri menjabat sebagai Kapitein der Chinezen (Kepala Suku Tionghoa) di Cirebon pada awal 1830-an hingga 1835. Ia memiliki hubungan kekerabatan dengan Kapitein Tan Phan Long, kakek buyut Mayor Tan Tjien Kie, serta terhubung dengan garis keluarga Tan Kong Djan, yang juga termasuk elite Tionghoa Cirebon. Dengan latar belakang tersebut, Mayor Tan Tjien Kie berasal dari keluarga besar yang sejak lama memainkan peran penting dalam kepemimpinan komunitas Tionghoa di wilayah Cirebon.
Di bawah kendali Mayor Tan Tjien Kie, perusahaan gula keluarga berkembang pesat. Bisnis ini tidak hanya berjaya secara ekonomi, tetapi juga menjadikannya salah satu tokoh Tionghoa terkaya dan filantropis terkemuka di Cirebon. Pemerintah Hindia Belanda pun mengangkatnya sebagai birokrat Tionghoa dengan pengaruh besar.
Karier birokrasinya dimulai saat ia diangkat sebagai Letnan Tituler pada 1884, kemudian naik menjadi Kapitein empat tahun kemudian. Pada periode 1875-1918, bisnis gulanya menguasai pasar internasional dengan ekspor ke Asia dan Eropa. Atas jasanya, Pemerintah Manchu menganugerahkan gelar Maharaja Kelas II pada 1893, sementara Pemerintah Hindia Belanda memberinya penghargaan Gouden Ster van Verdienste (Bintang Emas untuk Pengabdian). Puncaknya, ia dianugerahi pangkat Mayor Tituler pada 1913.
Sebagai pengusaha besar, Mayor Tan Tjien Kie memiliki puluhan rumah mewah, ribuan hektare tanah, dan sejumlah pabrik gula. Salah satu kediaman termegahnya berada di Desa Luwunggajah (kini Kecamatan Ciledug), dikenal dengan nama Gedong Binarong, yang menjadi simbol kemewahan dan kekuasaannya.
Pengaruhnya tidak hanya terasa di bidang ekonomi, tetapi juga politik dan sosial. Ia memiliki sejumlah pesanggrahan bergaya Hindia abad ke-19, antara lain Rumah Pesisir Sisingamangaraja (kini Santa Maria), bangunan eks Korem yang sekarang menjadi Yogya Grand di Jalan Karanggetas, dahulu hotel yang dihadiahkan untuk pernikahan putrinya, serta Rumah Tambak dan Rumah Kali Tanjung.
Gedong Binarong dengan pilar-pilar anggunnya di Ciledug, Kabupaten Cirebon bagian timur, merupakan istana termegahnya. Tak jauh dari sana berdiri Suikerfabriek Luwunggadjah, pabrik gula yang menjadi sumber utama kejayaan finansial Mayor Tan Tjien Kie.
Mayor Tan Tjien Kie wafat pada 19 Februari 1919 dan dimakamkan di Dukuh Semar, Gang Tumaritis. Dalam buku Javaanse Volksvertoningen, Dr. Th. Pigeaud menyebutnya sebagai "Een Groot Beschermer der Javaanse Kunst" atau Pelindung Besar Kesenian Jawa. Ia dikenal memiliki koleksi wayang, topeng-topeng indah, manuskrip kuno, serta dalang-dalang ternama.
Kecintaan terhadap seni tersebut sejatinya diwarisi dari sang ibu, Oey Te Nio, yang gemar menggelar pertunjukan wayang di rumahnya di Pasuketan. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh Mayor Tan Tjien Kie sepanjang hidupnya.
Setiap perayaan Imlek, Mayor Tan Tjien Kie selalu melaksanakan sembahyang di Kelenteng Winaon yang ia bangun sendiri. Saat kesehatannya menurun, sembahyang dilakukan di rumah kediamannya. Pada masa jayanya, rumah Mayor Tan Tjien Kie selalu terbuka bagi para pembesar kolonial maupun masyarakat setempat. Ia kerap menggelar open house serta pertunjukan wayang potehi sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya.
Mayor Tan Tjien Kie bukan sekadar pengusaha gula besar, melainkan juga filantropis, pelindung seni, dan tokoh sosial yang meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah Cirebon.
_
Penulis merupakan Budayawan Tionghoa Cirebon
Via
Budaya

Posting Komentar