Headline
Regional
MBG Karawang Bagikan Menu Kurma ke Balita, SPPG Lagi Bagi Takjil?
![]() |
| Gambar: Ilustrasi |
KARAWANG - Program MBG (Makan Bergizi Gratis) di Karawang kembali bikin warga angkat alis. Bukan karena programnya berhenti, tapi karena isi menu balita yang dinilai lebih mirip paket takjil gratis daripada paket gizi yang dihitung serius.
Laporan yang masuk ke redaksi SpillNews dari masyarakat Cilamaya Kulon menyebutkan, paket MBG untuk balita di posyandu berisi dimsum, susu kotak kemasan, roti kisaran harga Rp2 ribuan, buah jeruk, hingga kurma.
Nah, bagian kurma ini yang langsung bikin warga saling lirik. Soalnya buah tersebut identik dengan menu berbuka puasa. Sementara program MBG seharusnya fokus pada kebutuhan nutrisi balita yang sedang dalam fase tumbuh kembang.
Belum selesai di situ, sebelumnya warga juga sempat menemukan buah pisang dengan bintik hitam alias tingkat kematangan yang sudah cukup tinggi alias "pisang senior". Buat orang dewasa mungkin tidak masalah, tapi ketika diberikan kepada balita, sebagian orang tua merasa perlu mempertanyakan kualitasnya.
Padahal dalam praktik pemenuhan gizi balita, makanan yang umum direkomendasikan biasanya berupa biskuit khusus balita atau biskuit fortifikasi yang memang diformulasikan dengan kandungan zat gizi tambahan untuk mendukung pertumbuhan anak. Produk seperti itu lazim digunakan dalam program kesehatan anak karena komposisinya sudah terukur.
Saat dikonfirmasi, Koordinator Wilayah SPPG, Robi Sendriadi, langsung menanyakan asal dapur penyedia menu tersebut. Ia kemudian menyatakan akan melakukan verifikasi.
"Oke baik pak. Terima kasih masukannya. Akan saya verifikasi ke SPPG tersebut. Karena menu di tentukan oleh SPPG masing-masing melalui ahli gizi," singkatnya melalui WhatsApp, Jumat (6/3/2026).
Ketika ditanya soal bentuk pengawasan dari pihak koordinator wilayah, terutama terkait penyesuaian porsi dan komposisi menu untuk balita, anak SD, SMP, SMA hingga ibu hamil. Robi menjelaskan bahwa pihaknya menetapkan standar nilai gizi yang harus dicapai, sementara menu disusun oleh dapur pelaksana.
"Kita memberikan nilai standar gizi yang harus di capai. Untuk menu tidak ada intervensi karena mengingat keterbatasan bahan baku dan makanan lokalan. Itu sudah kita arahkan," tandasnya.
![]() |
| Gambar: Kiriman Warga |
Penjelasan ini justru memunculkan pertanyaan baru di kalangan masyarakat. Jika standar gizi ditentukan di tingkat wilayah sementara menu sepenuhnya berada di tangan dapur SPPG, publik ingin tahu bagaimana hitungan gizi tersebut benar-benar diterjemahkan ke makanan yang sampai ke balita.
Program makan gratis tentu patut diapresiasi. Namun bagi warga, yang dipertaruhkan bukan sekadar pembagian makanan, melainkan kualitas gizi untuk anak usia tumbuh kembang.
Karena ketika paket balita berisi dimsum, roti murah, sampai kurma, wajar kalau celetukan mulai muncul di warung kopi sampai grup WhatsApp warga; ini program MBG, atau dapur SPPG lagi bagi-bagi takjil gratis. (***)
Via
Headline


Posting Komentar