Berziarah ke Cirebon, Adab dan Etika Jangan Ketinggalan
CIREBON - Bukan cuma soal batik mega mendung, empal gentong, nasi jamblang, atau wisata sejarah. Cirebon sejak lama, sudah berpredikat sebagai kota wali dan kota ziarah.
Jejak spiritualnya tersebar rapi tapi sakral, mulai dari kawasan Keraton, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Makam Sunan Gunung Jati, hingga maqbarah para auliya dan tokoh besar Cirebon lainnya yang tersebar di berbagai pelosok Cirebon. Sampai hari ini terus diziarahi masyarakat dari berbagai daerah, bahkan luar negeri.
Ramainya peziarah memang jadi pemandangan sehari-hari. Tapi menurut Budayawan Cirebon, Akbarudin Sucipto, antusiasme ziarah harus jalan bareng dengan etika dan adab, bukan asal datang lalu merasa bebas segalanya.
"Cirebon ini banyak sekali makam para auliya. Tapi ziarah itu bukan soal banyak-banyakan tempat yang didatangi. Yang utama justru niat, adab, dan etika kita," ujar Akbarudin yang akrab disapa Kang Akbar, Minggu (1/2/2026).
Ia menegaskan, tidak semua makam bisa dimasuki sembarangan. Ada maqbarah tertentu yang memang punya aturan khusus dan hanya boleh dimasuki keluarga keraton atau dzurriyah tertentu. Hal itu bukan untuk mempersulit, tapi bagian dari tradisi dan tata nilai yang harus dihormati.
"Misalnya di Maqbarah Kanjeng Sinuhun Sunan Gunung Jati. Itu harus dipahami. Jangan dilanggar. Kalau memang tidak boleh masuk, ya hormati. Ziarah itu soal sikap batin, bukan soal nekat," tegasnya.
Selain soal area, niat juga jadi sorotan penting. Menurut Kang Akbar, ziarah seharusnya diniatkan sebagai ibadah dan silaturahmi ruhani, bukan tempat menggantungkan harapan yang melenceng dari ajaran.
"Niat itu penting. Kita datang untuk mendoakan, bukan meminta yang macam-macam. Kalau niatnya lurus, ziarahnya juga membawa berkah. Apalagi yang kita ziarahi itu sosok yang punya kedekatan khusus secara spiritual dengan Gusti Allah, insyaallah dimudahkan hajatnya," katanya.
Soal etika, Kang Akbar mengibaratkan ziarah itu seperti bertamu ke pejabat penting sekelas pemangku kebijakan.
"Kalau kita mau bertemu Wali Kota atau Bupati saja, pasti berpakaian rapi dan sopan. Nah ini kita bertamu ke Auliya, orang-orang pilihan Allah, yang perjuangannya luar biasa. Masa iya adabnya kalah," tuturnya.
Ia mengingatkan peziarah untuk berpakaian sopan, dalam keadaan suci, menjaga ucapan, tidak berisik, serta melafalkan kalimat-kalimat suci, mengucapkan doa-doa dengan tenang agar tidak mengganggu peziarah lain. Ziarah, kata dia, bukan tempat pamer, apalagi panggung konten.
"Ziarah itu ibadah, bukan panggung. Doanya cukup lirih, khusyuk, dan penuh rasa hormat," ucapnya.
Di akhir, Kang Akbar menegaskan bahwa tujuan utama ziarah adalah mengingat kematian sekaligus meneladani perjuangan dan akhlak para wali.
"Ziarah itu harus men-trigger kita. Mengingat mati iya, tapi juga membangkitkan semangat ibadah, semangat perjuangan, dan akhlak para auliya. Minimal pulangnya jadi orang yang lebih baik," pungkasnya.
Di kota wali seperti Cirebon, ziarah bukan sekadar tradisi turun-temurun atau agenda wisata religi. Ia adalah perjalanan adab, tempat niat diuji, sikap ditata, dan hati ditempa. Datang boleh ramai, tapi etika dan adab jangan sampai ketinggalan. (***)

Posting Komentar