Budaya
Headline
Datang ke Gunung Sembung, Cirebon, jangan cuma modal niat baik dan outfit sopan. Ada adab yang wajib ikut dibawa, salah satunya yang sering dianggap sepele tapi justru paling bermakna, yakni melepas alas kaki. Kedengarannya simpel, bahkan receh. Padahal maknanya dalam, bukan kaleng-kaleng.
Adab Melepas Alas Kaki Saat Berziarah ke Gunung Sembung Cirebon
![]() |
Oleh: Rd. Cholil Arief, SE.
|
Datang ke Gunung Sembung, Cirebon, jangan cuma modal niat baik dan outfit sopan. Ada adab yang wajib ikut dibawa, salah satunya yang sering dianggap sepele tapi justru paling bermakna, yakni melepas alas kaki. Kedengarannya simpel, bahkan receh. Padahal maknanya dalam, bukan kaleng-kaleng.
Gunung Sembung bukan sekadar lokasi ziarah. Di sanalah Kanjeng Sinuhun Sunan Gunung Jati dimakamkan, wali besar yang jejak spiritual dan kebijaksanaannya membentuk wajah Cirebon dan Nusantara. Maka wajar jika ruang ini diperlakukan berbeda. Masuk ke kawasan utama makam bukan sekadar soal sampai tujuan, tapi soal bagaimana menempatkan diri.
Tradisi melepas alas kaki di Gunung Sembung tidak lahir dari tulisan larangan atau peraturan resmi. Ia hidup dari kesadaran bersama. Kesadaran bahwa ada ruang-ruang tertentu yang tidak cukup dihormati dengan kamera dan langkah kaki saja, tetapi dengan sikap batin.
Dalam Al-Qur’an, praktik semacam ini punya rujukan kuat. Dikisahkan Nabi Musa AS dipanggil oleh Allah SWT di Lembah Thuwa, sebuah lembah yang disucikan dan diberkahi.
"Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa."
(QS. Thaha: 12)
Perintah ini bukan soal sandal semata, melainkan simbol agar manusia melepaskan ego, keakuan, dan atribut duniawi saat berada di ruang yang dimuliakan.
Para ulama tafsir memaknai peristiwa tersebut sebagai ajakan untuk merendahkan diri sepenuhnya. Menanggalkan alas kaki berarti menyadari posisi sebagai hamba, bukan pemilik ruang. Bukan yang datang dengan kesombongan, tetapi dengan kesadaran penuh dan hati yang siap dibentuk.
Nilai inilah yang kemudian hidup kuat dalam ajaran para wali di Nusantara. Tempat-tempat mulia tidak dipahami sebagai lokasi biasa, melainkan sebagai ruang spiritual yang berkaitan dengan asal-usul dan perjalanan kesadaran manusia. Dalam tradisi ini dikenal lapisan-lapisan makna seperti Baitul Maqdis, Baitul Ma’mur, hingga Baitul Haram, yang masing-masing menyimpan tahapan ilmu, rasa, dan pengenalan diri.
Karena itu, melepas alas kaki saat berziarah ke Gunung Sembung dimaknai sebagai simbol menurunkan ego. Sandal dilepas, kesombongan diturunkan. Langkah diperlambat, hati ditata. Seseorang datang bukan sebagai wisatawan, tapi sebagai tamu yang sowan.
Di tengah tren ziarah yang belakangan sering kebablasan jadi wisata religi plus konten, adab ini jadi pengingat penting. Gunung Sembung bukan spot plesiran, bukan pula checklist destinasi. Ia adalah ruang kontemplasi, tempat belajar hormat dan sadar diri.
Sebagai putra daerah Cirebon yang tumbuh dan ditempa oleh tradisi lingkungan keraton serta laku hidup sebagai santri Cirebon, ziarah ke Gunung Sembung selalu menghadirkan pesan yang sama; inti ziarah bukan pada seberapa jauh melangkah atau seberapa ramai kunjungan, melainkan pada sikap batin yang dibawa.
Pada akhirnya, melepas alas kaki bukan urusan kaki semata. Ia adalah latihan hati. Tentang belajar merendah di ruang yang ditinggikan. Tentang mengingat kembali asal-usul diri, di tengah dunia yang kerap membuat manusia lupa arah.
Via
Budaya

Posting Komentar