Wisata Bergeser di Tahun Kuda Api, Dompet Melipir ke Kuliner Murah Meriah
CIREBON - Kenaikan kurs dolar ternyata nggak otomatis bikin masyarakat batal liburan. Meski nilai tukar rupiah terhadap dolar AS per 30 Januari 2026 ditutup di angka Rp16.786 dan sudah dua pekan bertahan di atas Rp16.700, geliat wisata justru masih terasa, terutama saat long weekend 16-18 Januari 2026 lalu.
Jogjakarta dan Solo tetap jadi magnet wisata. Kawasan Prawirotaman Jogja dipadati wisatawan domestik, Gudeg Sagan full tanpa jeda. Yang bikin kaget, Pasar Ngasem justru jadi spot favorit-ramai pengunjung berburu kuliner murah, sederhana, tapi ngena di lidah. Konsepnya jelas: hemat tapi nikmat.
Hal serupa terlihat di Cirebon. Pada 29 Februari 2026, Pasar Kanoman ramai wisatawan yang berburu oleh-oleh khas Cirebon. Di kawasan Cipto Mangunkusumo, rumah makan seafood tak kalah padat. Empal gentong, sega jamblang, hingga seafood jadi menu wajib, terutama bagi wisatawan dari Bandung yang sejak lama menjadikan Cirebon sebagai destinasi wisata kuliner.
Budayawan Tionghoa, Jeremy Huang Wijaya, menilai fenomena ini sebagai tanda pergeseran pola wisata masyarakat.
"Sekarang wisata itu bukan lagi soal mahal atau jauh, tapi soal makan enak, murah, dan tetap punya nilai budaya," ujar Jeremy.
Menurutnya, terjadi pergeseran dari wisata alam ke wisata kuliner, dari restoran mahal ke pasar kuliner, serta dari makanan western ke makanan tradisional. Tempat makan yang murah, enak, dan estetik untuk difoto kini jadi primadona baru.
"Daya beli turun, kelas menengah ikut menyesuaikan. Konsumsi ditekan, tapi kebutuhan jalan-jalan tetap ada. Akhirnya pasar tradisional dan kuliner rakyat yang bangkit," tambahnya.
Di Tahun Kuda Api, arah wisata makin terbaca jelas. Bukan soal gengsi, tapi soal strategi bertahan. Dompet boleh waspada, tapi lidah tetap dimanjakan. Wisata murah meriah resmi naik kelas. (***)

Posting Komentar