bisnis
Headline
Nasional
Regional
Pabrik Raksasa Berdiri di Karawang, Warga Mengaku Masih Sulit Dapat Kerja, Manfaat Investasi untuk Siapa?
KARAWANG – Karawang tak pernah sepi dari kabar investasi. Kawasan industri terus bertambah, proyek strategis nasional (PSN) bergulir, dan angka investasi berkali-kali menjadi kebanggaan pemerintah. Namun, di tengah deretan pabrik raksasa yang terus menjulang, muncul pertanyaan yang belakangan ramai bergema dari masyarakat: kalau investasi terus berdatangan, kenapa sebagian warga sekitar mengaku masih sulit mendapatkan pekerjaan?
Pertanyaan itu kembali menguat setelah Sekretaris Desa Wanajaya, Hendar, mengunggah sebuah vlog yang ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam video tersebut, ia menyampaikan keresahan warganya yang menilai penyerapan tenaga kerja lokal belum berjalan optimal, meski sejumlah perusahaan berskala besar telah beroperasi di wilayahnya.
Menurut Hendar, keberadaan perusahaan-perusahaan seperti CATIB hingga Smoothway diharapkan mampu membuka peluang kerja lebih luas bagi masyarakat sekitar. Namun, berdasarkan aspirasi yang diterimanya dari warga, harapan tersebut dinilai belum sepenuhnya terwujud.
Unggahan itu memantik diskusi publik. Tidak sedikit warga mempertanyakan sejauh mana manfaat investasi benar-benar dirasakan masyarakat di sekitar kawasan industri. Bagi mereka, besarnya nilai investasi seharusnya berjalan seiring dengan meningkatnya kesempatan kerja bagi tenaga kerja lokal.
Sorotan publik kemudian melebar ke isu lain yang sempat viral, yakni keberadaan tenaga kerja asing (TKA) asal China di proyek industri baterai CATL. Dalam sejumlah unggahan media sosial, muncul dugaan bahwa TKA menggunakan visa C20 tetapi melakukan pekerjaan konstruksi di lapangan.
Menanggapi isu tersebut, Kantor Imigrasi Karawang langsung menurunkan tim Seksi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian (Inteldakim) untuk melakukan inspeksi mendadak dan verifikasi faktual di lokasi proyek.
Kasubsie Teknologi Informasi Keimigrasian Kantor Imigrasi Karawang, Aditya Nugraha, mengatakan hasil pemeriksaan tidak menemukan TKA yang melakukan pekerjaan kasar sebagaimana narasi yang berkembang.
"Kami sudah melakukan pengecekan ke sana. Memang selama ini tidak ada ditemukan orang asing yang langsung bekerja kasar, seperti mengaduk semen dan sebagainya. Mereka berada di site masing-masing sesuai dengan fungsi dan visanya," ujar Aditya.
Ia menjelaskan, keberadaan tenaga kerja asing tersebut berkaitan dengan pemasangan mesin produksi yang didatangkan langsung dari China. Menurutnya, proses tersebut merupakan bagian dari instalasi teknis sekaligus transfer of technology kepada tenaga kerja Indonesia.
"Mesin itu didatangkan dari China, jadi memang mereka sendiri yang harus memasang berdasarkan blueprint atau site plan. Dalam prosesnya ada pendampingan untuk alih teknologi dan alih bahasa kepada pekerja lokal Indonesia. Setelah pemasangan selesai, penyerahannya kepada pekerja Indonesia," jelasnya.
Imigrasi juga menepis anggapan bahwa status proyek sebagai PSN maupun keterlibatan BUMN membuat pengawasan keimigrasian menjadi longgar.
"Jangan benturkan kami dengan BUMN atau pusat. Aturan tetap aturan. Kami tidak takut. Kalau ada pelanggaran pasti ditindak. Dalam kasus ini, hasil pemeriksaan menunjukkan dokumen dan aktivitas mereka masih sesuai dengan peruntukan visa," tegas pihak Imigrasi.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya menjawab pertanyaan yang berkembang di tengah masyarakat. Sebab, keresahan yang disampaikan warga tidak hanya menyangkut legalitas keberadaan TKA, tetapi juga mengenai seberapa besar kesempatan kerja yang tersedia bagi masyarakat lokal di tengah masifnya pembangunan kawasan industri.
Di titik inilah publik mulai mempertanyakan efektivitas investasi dalam menciptakan dampak langsung bagi masyarakat sekitar. Nilai investasi yang besar memang menjadi indikator pertumbuhan ekonomi. Namun, bagi sebagian warga, ukuran keberhasilannya juga tercermin dari seberapa banyak putra-putri daerah yang dapat ikut bekerja dan tumbuh bersama industri yang berdiri di lingkungan mereka.
Hingga berita ini diterbitkan, SpillNews telah berupaya meminta konfirmasi kepada pihak pengelola proyek CATIB terkait penyerapan tenaga kerja lokal maupun isu yang berkembang di masyarakat. Namun, belum ada tanggapan yang disampaikan.
Di tengah derasnya arus investasi yang masuk ke Karawang, pertanyaan masyarakat tampaknya masih sama: apakah pembangunan industri sudah benar-benar menghadirkan manfaat yang terasa bagi warga di sekitar kawasan, atau justru manfaat itu masih menjadi harapan yang terus menunggu jawaban. (***)
Via
bisnis

Posting Komentar