Headline
pendidikan
Regional
"Media Itu Butuh Duit" Celetukan Oknum Pengawas Korwilcambidik Bikin Ketua AMKI Karawang Naik Pitam
KARAWANG - Ajang Invitasi Olahraga Tradisional tingkat SD se-Kecamatan Tirtajaya yang digelar di Lapang Bola Medankarya, bukan cuma nyisain lomba dan sorak-sorai. Kegiatan itu malah berubah jadi polemik panas usai muncul dugaan sejumlah siswa pingsan saat perlombaan berlangsung pada Senin (11/5/2026) lalu.
Bukannya adem pas diklarifikasi, suasana malah makin panas gara-gara celetukan salah satu pengawas Korwilcambidik Kecamatan Tirtajaya berinisial MY yang bikin insan pers langsung geleng-geleng kepala.
Awalnya, awak media dari Nuansa Metro dan Target Hukum datang ke Kantor Korwilcambidik Tirtajaya pada Rabu (13/5/2026) buat konfirmasi soal informasi siswa yang diduga tumbang saat kegiatan olahraga berlangsung.
Tapi bukannya dapet jawaban soal kondisi siswa atau kesiapan panitia, wartawan malah dapet kalimat nyelekit.
"Ya kalau media melakukan konfirmasi dan mencari informasi silahkan, itu sah-sah saja, karena memang itu sudah tugasnya. Tapi, pada kenyataannya media itu butuh duit," ujar MY di hadapan wartawan.
Nah, bagian "media itu butuh duit" ini yang langsung bikin suasana auto panas. Soalnya MY nggak menyebut "oknum", sehingga ucapan tersebut dianggap menggeneralisasi seluruh profesi wartawan cuma kerja karena duit. Buat banyak insan pers, itu bukan lagi sekadar ceplas-ceplos, tapi sudah masuk kategori merendahkan profesi jurnalistik.
Ketua Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Karawang, Endang Nupo, langsung buka suara keras. Menurutnya, ucapan MY mencederai profesi wartawan yang bekerja berdasarkan Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
"Pernyataan itu sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang pejabat di lingkungan pendidikan. Kalimat 'media itu butuh duit' merupakan tuduhan yang tidak berdasar dan menyudutkan profesi wartawan secara keseluruhan," tegas Endang.
Ia juga mengingatkan kalau media punya fungsi kontrol sosial yang dilindungi undang-undang. Wartawan bekerja buat menyampaikan informasi ke publik secara objektif, bukan jadi alat kepentingan atau sekadar ngejar cuan.
"Kalau ada oknum, sebut oknum. Jangan membawa-bawa seluruh profesi. Pers itu pilar demokrasi. Tanpa media, publik tidak akan tahu apa yang terjadi di lapangan, termasuk soal dugaan siswa pingsan dalam kegiatan tersebut," lanjutnya.
Ironisnya lagi, kontroversi ini muncul justru saat wartawan lagi menjalankan tugas jurnalistik buat menggali fakta soal keselamatan peserta didik. Bukannya klarifikasi substantif soal kondisi siswa, yang keluar malah statement yang bikin hubungan media dan lembaga pendidikan makin tegang.
Sejumlah pihak kini mendesak agar BKPSDM Karawang segera turun tangan melakukan pembinaan terhadap oknum pengawas tersebut supaya kejadian serupa nggak terulang lagi.
Dorongan permintaan maaf terbuka kepada insan pers juga mulai mengalir. Banyak pihak menilai langkah itu penting buat menjaga hubungan baik antara media dan institusi pendidikan.
Karena pada akhirnya, pers bukan musuh pemerintah atau dunia pendidikan. Pers hadir sebagai mitra kritis agar setiap kegiatan publik tetap transparan, aman, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Dan satu hal yang sekarang jadi sorotan: dugaan siswa pingsan belum sepenuhnya terang, tapi ucapan "media itu butuh duit" sudah telanjur bikin gaduh se-Kabupaten Karawang. (***)
Via
Headline

Posting Komentar