Headline
Regional
Pejabat Disuruh Irit BBM, Publik Diminta Ngawasin Biar Gak Jadi Pencitraan Sesaat
KARAWANG - Wacana pejabat pindah kendaraan demi hemat energi lagi rame dibahas, tapi jangan keburu kagum dulu, ada yang ngingetin ini baru langkah awal, bukan pencapaian akhir.
Direktur Ghazali Center, Lili Gojali, langsung kasih garis tegas soal arah kebijakan ini.
"Jadi alih kendaraan bukanlah ending atau puncak kebijakan hemat energi, bagusnya disempurnakan dengan merevisi post pengeluaran terkait, seperti tunjangan transport bagi pejabat dan anggota dewan berikut biaya perawatan kendaraan dinas, plus biaya makan minum ASN," tegas Lili, Kamis (2/4/2026).
Menurut dia, kalau cuma ganti kendaraan tanpa beresin anggaran lain, ya sama aja setengah hati, terlihat simpel tapi belum menyentuh akar pemborosan.
Gak berhenti di situ, Lili juga nyorot peran publik dan media yang harus ikut turun tangan ngawasin.
"Jangan sampai ini hanya formalitas dan kepatuhan sporadis karena takut oleh instruksi pusat saja," lanjutnya.
Dia pengen kebijakan ini gak cuma jadi tren sesaat, tapi benar-benar jadi kebiasaan pejabat.
"Tindakan empati seperti saat ini harus mendarah daging dan berurat akar pada jiwa pejabat yang merupakan abdi negara dan abdi rakyat," katanya lagi.
Lebih jauh, Lili menegaskan kalau gaya hidup sederhana pejabat itu bukan hal baru, tapi nilai lama yang harus dijaga.
"Media dan kalangan publik lainnya wajib menyorot dan mengawal perilaku-perilaku para pengelola negara," terangnya.
Soal pemberitaan, dia malah santai tapi nyeletuk tajam.
"Tampilkan sebagai pemberitaan biasa saja peralihan jenis kendaraan pejabat tersebut, tak perlu dihebohkan apalagi dianggap sebagai tauladan," ucapnya.
Penutupnya simpel tapi ngena.
"Wong baru beberapa hari kok, kecuali bertahan dengan gaya hidup bersahaja dalam waktu yang lama atau panjang, itu lain ceritanya," tandasnya. (***)
Via
Headline

Posting Komentar