Headline
Regional
Normalisasi Irigasi Karawang Timur Disemprot Keras Soal Penebangan Pohon
KARAWANG - Proyek normalisasi irigasi di Karawang Timur lagi kena semprot pedas. Mahar Kurnia Institute buka suara, nyorot pelaksanaan yang dinilai janggal dan vibes-nya kayak kerja tanpa konsep, adem-ademnya malah ilang bareng deretan pohon yang tumbang.
Dalam pernyataannya, tokoh yang akrab disapa Kang Mahar menyoroti pelaksanaan proyek yang menurutnya tidak mengacu pada petunjuk pelaksanaan (juklak) maupun petunjuk teknis (juknis) yang semestinya.
"Dari pantauan kami di lapangan, normalisasi ini terlihat dijalankan tanpa konsep yang jelas. Ini bukan sekadar teknis, tapi menyangkut cara berpikir," tegasnya, Kamis (9/4/2026).
Yang paling bikin geleng kepala, kata Mahar, adalah pembabatan pohon di sepanjang jalur irigasi yang dinilai brutal. Bukan cuma estetika kota yang auto gersang, tapi juga fungsi ekologis yang ikut "ke-cut".
"Pohon-pohon itu bukan sekadar hiasan. Mereka menghasilkan oksigen, menahan longsor, meredam angin, dan memberi keteduhan. Tapi ini justru dibabat habis. Ini sangat disayangkan," ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini bikin tanda tanya besar: ini proyek lagi ngebut kejar target atau justru ada kelalaian serius di tahap perencanaan.
![]() |
| Mahar Kurnia |
Nggak cuma BBWS yang kena semprot, Pemda Karawang juga ikut kena spill. Apalagi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang dulu getol bawa slogan "Karawang Asri", sekarang dinilai malah adem tapi kebangetan, diam seribu bahasa.
"Biasanya kampanye 'satu pohon satu kehidupan' digaungkan. Tapi ketika pohon besar dan rindang ditebang, justru diam. Ini kontradiktif," katanya.
Mahar juga nyenggol program penghijauan yang dianggap cuma formalitas, rame di seremoni, sepi di perawatan.
Lebih jauh, Mahar mempertanyakan fungsi pengawasan dari PJT sampai koordinasi lintas instansi, termasuk dengan Pemprov Jawa Barat. Ia menilai langkah ini nggak sejalan dengan semangat pelestarian lingkungan yang selama ini digaungkan.
Bahkan, komitmen lingkungan yang sering disuarakan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), ikut disinggung karena dinilai bertolak belakang dengan kondisi di lapangan.
"Ini bertolak belakang dengan semangat pelestarian lingkungan yang selama ini dijunjung. Jangan sampai ada kerja tanpa konsep yang merusak nilai-nilai tersebut," terangnya.
Nggak cuma kritik doang, Mahar Kurnia Institute juga minta klarifikasi tegas dari pihak terkait. Mereka ingin ada penjelasan jelas soal pembabatan yang dinilai nggak masuk akal.
"Kami ingin tahu apa maksud dari pembabatan brutal ini. Jangan sampai atas nama normalisasi, justru terjadi pembunuhan terhadap lingkungan," tutup Mahar.
Sampai berita ini diturunkan, pihak BBWS maupun instansi terkait masih belum buka suara. Situasi masih panas, tapi lingkungannya keburu nggak adem. (***)
Via
Headline


Posting Komentar