Headline
pendidikan
Regional
Perintis UNSIKA Bersuara, Saleh Effendi Sentil Minimnya Apresiasi untuk Para Pendiri
KARAWANG - Ada yang merasa dilupakan di tengah megahnya nama Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA). Bukan soal gedung, bukan soal status negeri. Tapi soal sejarah dan orang-orang yang dulu pasang badan di masa kampus ini masih merangkak.
Mantan Wakil Sekretaris Yayasan Pembina Pendidikan Perguruan Tinggi Pangkal Perjuangan (YPPPTPP), Saleh Effendi, menyampaikan keprihatinannya terhadap minimnya perhatian civitas academica UNSIKA terhadap para perintis dan pelaku sejarah berdirinya perguruan tinggi tersebut.
Saleh mengungkapkan, dirinya tercatat sebagai bagian dari sejarah awal berdirinya UNSIKA di Karawang melalui YPPPTPP. Pada masa awal pembentukan yayasan itu, ia menjabat sebagai Wakil Sekretaris mendampingi Sekretaris saat itu, Harun Firdaus. Dalam perjalanannya, Saleh kemudian dipercaya menjadi Sekretaris YPPPTPP hingga sebelum UNSIKA berstatus sebagai perguruan tinggi negeri.
Ia menegaskan keterlibatannya tidak hanya pada aspek kelembagaan, tetapi juga dalam penguatan akademik kampus pada masa-masa awal perkembangan.
"Ingat-ingat, tahun 1987 saya diminta untuk menjadi Kepala Sekretariat Fakultas Ekonomi saat dekannya Bapak Drs. Pane," ujar Saleh, Selasa (24/2/2026).
Bukan cuma urusan administrasi. Di tahun 2001, Saleh juga menyebut ikut merintis kerja sama strategis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Kolaborasi ini membuka jalan bagi mahasiswa Fakultas Teknik UNSIKA untuk bisa diterima dan memanfaatkan fasilitas laboratorium teknik di kampus teknik ternama tersebut.
"Tahun 2001 bersama civitas academica Fakultas Teknik merintis kerja sama dengan ITB jurusan teknik untuk menerima mahasiswa Fakultas Teknik agar bisa diterima menggunakan laboratorium teknik ITB," ungkapnya.
Menurut Saleh, fase-fase awal penuh perjuangan itulah yang menjadi fondasi UNSIKA hingga berkembang dan menyandang status perguruan tinggi negeri seperti sekarang. Dari yayasan, merintis kerja sama, sampai memperkuat akademik, semua tidak instan.
Sebagai perintis sejak awal keberadaan UNSIKA, ia mengaku bangga melihat perkembangan kampus. Namun di sisi lain, ia menyayangkan belum adanya perhatian atau penghargaan yang memadai terhadap para pendiri dan pembina yang berperan dalam sejarah awal berdirinya institusi tersebut.
"Seolah tidak ada sentuhan dari civitas academica kepada para pelaku sejarah pendiri dan pembina UNSIKA," kata Saleh.
Nada bicaranya bukan marah, tapi getir. Ia mengingatkan pentingnya prinsip "Jasmerah", jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dalam penuturannya, Saleh juga menyebut sejumlah tokoh fase awal pendirian UNSIKA, di antaranya Harun Firdaus yang kini dalam kondisi sakit, Ida Rosida selaku notaris dan mantan Ketua Harian YPPPTPP, serta Nurdin Singadimeja yang kini telah lanjut usia.
Pesannya sederhana tapi dalam, kampus boleh maju, status boleh naik, tapi sejarah jangan ditinggal apalagi dilupakan. UNSIKA, kata dia, harus tetap menjaga marwah sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berorientasi pada pembangunan sumber daya manusia di Karawang dan tetap menjadi kawah candradimuka bagi generasi daerah. (***)
Via
Headline

Posting Komentar