Budaya
Headline
Tokoh
Bedug Hadiah Syeikh Quro Masih Berdentum di Cirebon, Tradisi Dugdag Tembus Zaman Sampai Ramadhan 2026
CIREBON - Di saat anak zaman now sibuk bikin konten "Ramadhan core" dan ngabuburit versi aesthetic, ada satu suara legendaris zaman old yang tak pernah absen sejak abad ke-14, yaitu dentuman bedug di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Kota Cirebon.
Suara yang bukan sekadar bunyi. Tapi jejak dan napas sejarah. Konon, bedug itu adalah hadiah dari tokoh penyebar Islam di tanah Karawang, Syeikh Quro untuk dakwah yang dirintis oleh Syeikh Syarief Hidayatullah atau yang dikenal juga sebagai Sunan Gunung Jati.
Bayangkan, sebelum ada toa masjid.
Sebelum notifikasi adzan berseliweran di layar ponsel. Sebelum alarm sahur berbunyi memecah tidur.
Dug! Dag! Dug! Dug! Dag! Dug! Dug! Der!
Dentuman itulah yang dulu menjadi "headline" umat. Penanda waktu shalat. Penjaga ritme kehidupan. Tanda cahaya Islam makin menyala di tanah Cirebon.
Dan yang bikin merinding, hingga Ramadhan 2026 ini, suaranya masih berdentum.
Salah satu Imam Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Ustadz H. (Qori) Syarief Yamani, M.Pd.I. menjelaskan, bahwa tradisi menabuh bedug atau yang sering disebut dugdag itu sudah berlangsung sejak abad 14 ketika Kanjeng Sinuhun Syeikh Syarief Hidayatullah menyebarkan Agama Islam. Kala itu bedug ditabuh untuk mengabarkan tanda masuknya waktu shalat.
"Selain menjaga tradisi, bedug yang merupakan hadiah dari Syeikh Quro Karawang ini masih tetap dirawat dan digunakan hingga sekarang. Bahkan hanya sempat diganti kulitnya saja, karena usia," ujarnya yang juga Pengasuh Ma'had Dhiya'ul Qur'an - Kota Cirebon tersebut, Kamis (19/2/2026) malam.
Bukan cuma simbol sejarah, tapi simbol konsistensi. Di era serba instan, bedug ini seperti ingin berbisik: tradisi itu bukan kuno, ia adalah akar.
Setiap Ramadhan, seni dugdag kembali hidup. Bukan asal pukul. Ada irama. Ada dzikir. Ada ruh yang mengalir di tiap ketukannya.
Diungkapkan Ustadz Syarief, saat Ramadhan seni memukul bedug itu dilakukan setiap malam yang bertujuan untuk memberi tanda bahwa masih ada orang yang terjaga hingga waktu sahur.
"Biasanya bedug ditabuh bergiliran oleh para jamaah pemuda, warga sekitar Masjid. Dimulai selepas Tadarus-an, hingga pukul 12 malam. Penabuh dugdag sendiri sudah turun temurun diajarkan oleh para Kaum (Pengurus Masjid) dari dulu hingga sekarang," jelasnya.
Selepas tadarus rampung, sekitar pukul 23.00 WIB, dugdag mulai berdentum memecah sunyi. Satu jam penuh hingga tepat pukul 00.00 WIB. Sejak dahulu, suara itu menjadi penanda bahwa masih ada yang terjaga di rumah Allah, dan menjadi isyarat halus untuk bersiap menyambut sahur.
Dari generasi ke generasi. Dari santri abad ke-14. Hingga Gen-Z 2026.
Tongkat estafetnya bukan mic podcast, tapi stik pemukul bedug.
Dikatakan Ustadz Syarief, dugdag ditabuh tidak sembarang saja, ada beberapa ketukan yang memang disesuaikan dengan alunan dzikir kalimat tauhid, seperti tahlil "Laa Ilaaha Illallah" serta bacaan tasbih, tahmid dan takbir.
"Pada akhir dugdag ditabuh sebanyak 99 kali yang menyesuaikan dengan jumlah Asmaul Husna," terangnya.
Tepat tengah malam, pukul 00.00 WIB, dentuman ke-99 menjadi penutup. Seolah mengirim pesan ke seluruh penjuru kota, bahwa malam belum selesai, iman jangan ikut tertidur.
Di tengah dunia yang makin bising dan serba cepat, bedug zaman old ini tetap setia berdentum. Bukan sekadar menjaga tradisi, tapi menjaga jiwa Ramadhan itu sendiri.
Dan selama dentumannya masih terdengar di langit Cirebon, sejarah itu tak pernah benar-benar usai. Ia hanya berpindah tangan, dari para wali, ke generasi-generasi seterusnya. (***)
Via
Budaya

Posting Komentar