Headline
Nasional
Regional
KH Anas Abdul Jamil, Ulama Buntet Cirebon Pembawa Tarekat Tijaniyah Pertama ke Tanah Jawa
![]() |
| Gambar Foto Diilustrasikan |
CIREBON - Jauh sebelum media sosial rame soal dakwah sana-sini, KH Anas Abdul Jamil sudah lebih dulu keliling menyebarkan ajaran Islam lewat jalur tarekat. Ulama kharismatik asal Pesantren Buntet Cirebon ini dikenal sebagai pembawa sekaligus muqaddam atau guru Tarekat Tijaniyah pertama di tanah Jawa.
KH Anas Abdul Jamil lahir dengan nama Muhammad Anas pada tahun 1883 di Desa Pekalangan, Cirebon. Beliau merupakan putra pasangan Kyai Abdul Jamil dan Nyai Qori'ah. Nah, garis keluarganya juga nyambung hingga trah Sunan Gunung Jati. Ayahnya merupakan putra KH Muta'ad yang dikenal sebagai menantu pendiri Pesantren Buntet, Kiai Muqoyyim.
Sedikit spill soal sang kakek, KH Muta'ad ternyata bukan sosok biasa. Dalam sejumlah catatan sejarah Pesantren Buntet, beliau disebut berasal dari lingkungan keluarga Kesultanan Cirebon dan pernah menjadi penghulu Karesidenan Cirebon. Meski punya garis bangsawan keraton, KH Muta'ad justru dikenal anti feodalisme dan lebih memilih dekat dengan kehidupan rakyat dan ikut meneruskan semangat perjuangan keluarga Buntet dalam melawan pengaruh kolonial Belanda lewat jalur dakwah dan pesantren.
Cerita tutur masyarakat Cirebon yang menyebut KH Muta’ad lebih senang "blusukan dakwah" dibanding hidup nyaman di lingkungan keraton juga cukup nyambung dengan sejarah keluarga Buntet. Apalagi mertuanya, Mbah Muqoyyim, memang dikenal meninggalkan lingkungan Keraton lalu membangun pesantren sebagai basis dakwah dan perjuangan rakyat di masa kolonial.
Silsilahnya kuat, lingkungannya pesantren banget, jadi wajar kalau sejak kecil KH Anas sudah akrab dengan dunia ngaji dan kitab kuning. Kakaknya saja KH Abbas, sementara dua adiknya adalah KH Ilyas dan KH Akyas. Satu rumah isinya para kiai semua, vibes-nya sudah kayak "markas ulama".
Setelah belajar langsung dari ayahnya, KH Anas muda lanjut mondok ke berbagai pesantren. Mulai dari Pesantren Sukanasari Plered Cirebon bersama Kyai Nasuha, lalu nyantri di Tegal bersama Kyai Sa'id, sampai akhirnya belajar di Pesantren Tebuireng di bawah bimbingan pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy'ari.
Titik balik hidup KH Anas terjadi saat berangkat haji ke Makkah tahun 1924 atas saran sang kakak, KH Abbas. Di sana beliau mulai mengenal Tarekat Tijaniyah dan mengambil talqin dari Syekh Alfa Hasyim di Madinah.
Bukan tipe "habis haji langsung pulang", KH Anas malah menetap selama tiga tahun di Makkah buat memperdalam ilmu tarekat. Baru tahun 1927 beliau kembali ke Cirebon sambil membawa semangat dakwah baru.
Sepulang dari Tanah Suci, KH Anas mulai menyebarkan Tarekat Tijaniyah di lingkungan Buntet. Dari sinilah Pesantren Buntet kemudian dikenal punya dua jalur tarekat besar. Kalau KH Abbas memimpin Tarekat Syathariyah, maka KH Anas jadi tokoh penting Tarekat Tijaniyah di Jawa.
Meski dikenal sebagai ulama besar, KH Anas tetap hidup sederhana dan rendah hati. Dalam dakwahnya beliau mengajarkan kitab-kitab utama Tijaniyah seperti Jawahir al-Ma'ani, Bugyah al-Mustafid dan Munyah al-Murid.
Pengaruhnya terus meluas hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur. Banyak ulama kemudian diangkat menjadi muqaddam untuk memperluas penyebaran Tijaniyah di Nusantara.
KH Anas Abdul Jamil wafat pada tahun 1945 dan dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Buntet, Cirebon. Hingga sekarang, namanya tetap dikenang sebagai ulama yang membuka jalan berkembangnya Tarekat Tijaniyah di tanah Jawa. (***)
Sumber:
laduni.id
nucirebon.or.id
elmuhibbin.com
Via
Headline

Posting Komentar