Warga Tionghoa Nggak Asal Jalan! Feng Shui dan Shio Masih Jadi Pegangan
CIREBON - Hidup boleh santai, tapi nggak semua bisa asal jalan. Bagi warga Tionghoa, nikah, pindah rumah, sampai buka usaha itu bukan urusan coba-coba. Feng Shui dan Shio masih jadi pegangan, bukan sekadar cerita turun-temurun.
Budayawan Tionghoa, Jeremy Huang Wijaya menyebut, dalam tradisi Tionghoa, hidup itu soal timing, tempat, dan kecocokan energi. Salah hitung dikit, efeknya bisa panjang.
"Warga Tionghoa itu nggak asal nikah, nggak asal buka usaha. Biasanya dihitung dulu Shio dan Feng Shui-nya, baru berani jalan," ujar Jeremy, Rabu (11/2/).
Ia menjelaskan, Feng Shui dikenal juga sebagai Hong Shui, berasal dari kata feng (angin) dan shui (air). Intinya, soal alur energi yang ngaruh ke kehidupan manusia.
"Dulu Feng Shui dipakai buat nentuin lokasi makam. Sekarang berkembang ke rumah dan tempat usaha. Hitungannya berdasarkan shio, tahun lahir, dan elemen masing-masing orang," jelasnya.
Jeremy menambahkan, ilmu Shio sudah dikenal sejak 475-221 sebelum Masehi. Sementara Feng Shui mulai dikenal sebagai Kan Yu pada abad ke-2 sebelum Masehi, yang ngajarin manusia buat hidup selaras dengan alam.
"Dasar Feng Shui dan Shio ini sudah ada sejak sekitar 6.500 tahun lalu. Ada lima elemen utama, yakni kayu, tanah, logam, api, dan air, yang saling tarik-menarik," ungkapnya.
Ia juga ngasih warning soal kondisi tahun ini.
"Jangan jumawa, perbanyak doa dan sedekah. Emosi orang gampang naik dan potensi bencana juga rawan," pungkas Jeremy. (***)

Posting Komentar