Ki Bagus Rangin, Panglima Perang Era Sultan Matangaji yang Bikin VOC Ketar-ketir
![]() |
| Ilustrasi: Ki Bagus Rangin |
CIREBON - Awalnya VOC datang ke Cirebon bukan bawa bedil, tapi bawa proposal. Dalihnya kerjasama dagang, janjinya sama-sama untung. Keraton diajak duduk, kesepakatan ditandatangani. Tapi pelan-pelan, rakyat yang justru kena getahnya. Harga ditekan, hasil bumi dikuasai, dan VOC mulai kebablasan merasa paling punya kuasa. Dari sinilah bara perlawanan mulai menyala.
Masuk awal 1800-an, kondisi Cirebon makin nggak karuan. Keraton panas, elite terbelah, politik ruwet, dan Belanda makin pede masuk ke urusan dalam. Pengkhianatan bahkan datang dari orang-orang dekat kekuasaan sendiri. Di tengah situasi carut-marut itulah muncul satu nama yang bikin VOC mulai susah tidur: Ki Bagus Rangin.
Bukan tokoh sembarangan. Ki Bagus Rangin dikenal sebagai panglima perang Keraton Kasepuhan pada masa pemerintahan Sultan Sofiuddin Tajul Arifin atau Sultan Matangaji. Sosoknya tak bisa dilepaskan dari konflik internal keraton yang makin tajam akibat tekanan kolonial.
Budayawan Cirebon, Akbarudin Sucipto menyebut, situasi mencapai titik genting pada 1818, saat Belanda mulai merangsek dan menguasai wilayah keraton. Bahkan, Sultan Matangaji disebut digulingkan oleh adik iparnya sendiri yang memilih bersekutu dengan Belanda.
"Kondisi keraton saat itu sudah dikuasai kelompok yang bersahabat dengan Belanda. Tidak semuanya, tapi cukup untuk membuat keraton terbelah," ujar Akbarudin, Rabu (28/1/2026).
Di tengah perpecahan itu, pilihan elite keraton pun berbeda. Ada yang memilih bertahan dan berkompromi, tapi tak sedikit yang angkat kaki dari lingkungan keraton. Mereka rela melepas gelar kebangsawanan demi satu hal: melawan penjajahan. Kelompok inilah yang kemudian menyatu dengan rakyat dan santri dalam barisan perlawanan.
Dari sinilah Ki Bagus Rangin tampil ke depan. Ia memimpin pasukan yang terdiri dari rakyat biasa, santri, dan unsur pendukung keraton yang menolak tunduk pada Belanda. Puncaknya terjadi pada 1818, saat kegelisahan rakyat meledak dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai 'Perang Kedongdong'.
Perang berlangsung di wilayah Kedongdong, Cirebon bagian barat, dengan pola gerilya yang bikin pasukan Belanda kelimpungan. Serangan datang cepat, berpindah-pindah, dan sulit ditebak. VOC yang terbiasa perang terbuka dibuat kewalahan. Bahkan, perlawanan ini disebut mampu mengalahkan pasukan Belanda dari wilayah tersebut.
Sejak saat itu, nama Ki Bagus Rangin jadi incaran utama. Ia dianggap ancaman serius bagi kekuasaan kolonial di Cirebon, termasuk bagi kelompok keraton yang sudah telanjur mesra dengan Belanda.
Cerita makin menarik ketika membahas soal makam Ki Bagus Rangin. Akbarudin menyebut, makamnya tersebar di berbagai daerah, termasuk di Rawamerta - Karawang. Bukan karena salah catat, tapi bagian dari strategi perang.
"Soal kuburannya memang tidak satu dan ada di mana-mana. Dulu sering muncul kabar Ki Bagus Rangin tertangkap dan dihukum. Tapi tak lama kemudian, di tempat lain muncul kabar bahwa Ki Bagus Rangin masih hidup," jelasnya.
Kabar simpang siur itu sengaja diciptakan untuk mengacaukan mental Belanda. Di satu wilayah ia dikabarkan tewas, di wilayah lain namanya muncul lagi memimpin perlawanan. Aksi tanpa henti ini juga mendapat dukungan dari Bagus Serit, Bagus Arsitem, Bagus Sidum, Ki Jatira, Ki Ardi Sela, serta Pangeran Raja Kanoman bersama Mbah Muqoyyim dari Keraton Kanoman yang menggerakkan para santri dan laskar dengan doktrin perjuangan: "Bengien wani, sekien wani, besuk uga wani."
Sejarah versi penjajah boleh ditulis rapi di arsip sebagai pemberontak. Tapi versi rakyat hidup dari tutur ke tutur. Dari kesepakatan dagang yang menipu, keraton yang terbelah, sampai perang gerilya di Desa Kedongdong, nama kepahlawanan Ki Bagus Rangin terus beredar bahkan setelah berkali-kali dikabarkan mati. Dan bisa jadi, itulah mimpi buruk terbesar VOC: melawan panglima yang tak pernah benar-benar bisa dihabisi. (***)

Posting Komentar